Kaligrafi Ukir dan Nilai-nilai yang Terkandung Di Dalamnya

Ada dua Sabda Rosulullah sebagai berikut “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia”.Yang kedua “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik budi pekertinya”. Keteladanan Rosulullah mencakup dalam beberapa aspek kehidupan, yang menjadikan manusia menjadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT
Buku ini adalah refleksi dari Sabda Rosulullah.  Sebagai manusia haruslah berbuat baik dan  membantu kepada sesama, mengamalkan apa yang dimiliki. Semoga buku ini manfaat, bagi pembaca, pecinta karya seni kaligrafi dan generasi yang akan datang. Apa yang saya temukan dan saya dapatkan dari Allah, kiranya bisa bermanfaat bagi sesama.
Buku dengan judul “Penemu Ekspresi Huruf Hijaiyah Pada Perspektif Ukir Tiga Dimensi” adalah hasil dari pengamatan, penelitian terhadap perkembangan sebuah karya seni ukir. Pada mulanya seniman muslim kurang perhatian pada  bentuk huruf hijaiyah,yang memiliki nilai-nilai estetika  tinggi untuk di tekuni dan kembangkan dalam perspektif ukir tiga dimensi. Hasil dari penelitian dan pengamatan pada bangunan-bangunan kuno, dari zaman kewalian, dari karya-karya di Timur Tengah, juga dari buku-buku yang ada di museum, dari referensi buku-buku cetakan Negara-negara Timur Tengah, menunjukkan bahwa kaligrafi huruf-huruf hijaiyah belum sampai pada tahap media dari kayu. Kalau ada kerajinan ukir dari Negara-negara seperti kamboja, Thailand, Malaysia, Turki, Iran, Mesir dan lain-lain.Yang pernah saya lihat adalah berbentuk sigar penjalin, tata batako atau sekedar timbul diatas dasar rata. Hal itu pernah Bapak H. Masagung katakan kepada saya Tahun 1986, Beliau mendapat undangan dari Pameran Islam di Bagdad. Menurut pengamatan Beliau hasil karya Negara-negara Arab beda dengan seni ukir dari media kayu.  Karya mereka sangat dominan pada media kertas, marmer, sulam, kuningan, cetakan cor. Bapak H. Masagung tahu bahwa yang mampu tampil beda di tingkat dunia Timur Tengah adalah karya kaligrafi ukir dari media kayu. “Saya minder Pak, belum pantas saya tampil di tingkat dunia”. Kaligrafer dari timur tengah sangat luar biasa, belum lagi kaligrafi dari bahan-bahan seperti kuningan dan logam. Dari Italia, Prancis sangat canggih. Beliau dengan tenang berkata justru itu Pak Mudzakir saya kirim, untuk mengikuti event-event tingkat dunia. Mereka dalam  media apa saja lebih maju dari  kita. Kecuali pada media ukiran kayu. Sebuah kepercayaan dan penghargaan dari Bapak H. Masagung dengan tulus, telah diberikan kepada saya, membuat saya percaya diri.
Selain kaligrafi Islam, saya juga mengespresikan kaligrafi huruf Cina dan Kanji. Pada pameran di Singapura Tahun 1988. Pengusaha cina di Jakarta punya ide-ide kreatif yang muncul setelah melihat ukiran kaligrafi  berbagai  desain saya. Dia bilang, Pak bagaimana kalau huruf Cina dan Kanji Bapak buat tambah bagus. Selama ini cuma begitu aja. Ide ekspresi kaligrafi huruf cina dan kanji muncul setelah dia melihat keindahan ekspresi huruf Hijaiyah. Pada pameran furniture di singapura dan Malaysia, saya membuat beberapa kaligrafi cina (dari kata-kata mutiara) dengan ekspresi sesuai huruf cina yang ditulis dengan alat kuas yang meliuk-liuk. Jadilah kaligrafi  ukiran huruf Cina/Kanji lebih ekspresionis dan  dekoratif sesuai ekspresi huruf cina dalam perspektif ukir dua atau tiga dimensi. Ukiran kaligrafi Cina habis terjual dalam pameran,tapi mereka tidak tahu hasil kreasi seni siapa?. Ekspresi kaligrafi huruf cina tersebut ternyata mendapat respon dari komonitas Cina laku keras di singapura dan Malaysia. Sayang foto-foto kaligrafi cina tidak saya muat pada halaman buku ini.Setidaknya sekedar tahu penciptanya.
PENEMU sebuah karya seni, adalah sebuah penemuan terbaru pada sebuah karya seni, yang sebelumnya belum pernah ditemukan oleh seseorang. Dan akan menjadi sebuah perubahan  monumental di tahun- tahun dan abad  mendatang.
Penelitian dan pengamatan yang cukup lama dari Tahun 1968, sebagai refleksi sebuah karya seni ukir, dari dinasti nenek moyang orang Jepara.
Menapak dari tahun 1958 kala saya masih duduk dibangku Sekolah Dasar, nilai  saya yang terbaik,  adalah nilai prakarya, menggambar, mengarang dan menulis halus. Sampai pada tahun 1983 ada tiga siswa Aliyah dan dua mahasiswa membuat karya tulis dan skripsi, mengambil judul tentang kaligrafi dan perkembangannya di Jepara, Alhamdulillah sekarang mereka sudah menjadi Sarjana S1dan ada juga yang sudah Sarjana S2.
1.    Dayat Dan temannya, pelajar SMIK Negeri Jepara. Dengan judul: Seni ukir Kaligrafi dan Motif hias. (tahun 1983 )
2.    Irsyad. Pelajar MA Al- Islam Jepara. Dengan judul: Kaligrafi ukir dan Pengembangannya. (tahun 1983).   S3.
3.    Mudai. Pelajar MA Al- Islam Jepara dengan judul: Pengembangan seni ukir kaligrafi. (tahun 1984). S1.
4.    Mahasiswi UMS Solo, dengan skripsi tentang manageman perusahaan meubel ukir dan kaligrafi El- Surayya Art S1.
5.    Alipudin kelahiran Palembang Mahasiswa STSI Solo. Dengan skripsi tentang kaligrafi El- Surayya Art Jepara. S1.
6.    Anis Musta’ah
Mahasiswi UST Jogyakarta. Dengan skripsi tentang Penerapan Kaligrafi pada desain interior dan eksterior.

Tiga siswa tingkat Aliyah dan tiga Mahasiswa  telah selesai studi dengan keberhasilan yang memuaskan. Sebagai nara sumber dari karya tulis dan sekripsinya, saya merasa sangat gembira atas prestasi yang mereka capai. Walaupun saya belajar mengukir ornament motif hias dan kaligrafi secara  autodidak cuma tiga hari saja.  Alhamdulillah.

0 komentar:

Poskan Komentar